Alkitab Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

“Tuhan sembuhkan atau tidak, bagi Daniel Tuhan tetap baik!”


“Dalam kesenangan, mudah sekali melupakan Tuhan. Dalam kesusahan, susah sekali melupakanNya.”

“Yang penting bukan seberapa lama kita hidup tetapi yang penting adalah seberapa bergunanya kita bagi sesama selama kita hidup”

“Terkadang masalah kita terlihat seperti raksasa dan kita harus mengangkat kepala kita untuk melihat raksasa tersebut. Namun, perlu diingat Tuhan melihat masalah tersebut dengan menundukan kepalaNya karena masalah kita terlalu kecil buat Dia.”

“Kita putus!” Masih terngiang ditelingaku kalimat yang diucapkan Agnes dua jam yang lalu.

Aku hanya diam membisu. Seolah ada sesuatu yang tajam menusuk ke dalam hatiku.
“Kamu ngga kayak cowok teman-teman aku yang lain. Kalau mau dibandingin kayak langit dan bumi deh. Semuanya pada cerita tentang kehebatan dan kelebihan pacar mereka sedangkan aku? Aku ngga tau harus ngomong apa!”

Aku memilih diam dan mendengarkan alasannya memutuskan hubungan kami yang sudah berjalan dua tahun. Tepatnya hari ini kami dua tahun jadian.
“Masa hari gini dia ngga punya Blackberry?! Yang ada hanya Hp butut nan tua. Yang bisa untuk sms dan telpon doang. Sedangkan pacar teman-teman aku, jangankan BB, iphone pun punya. Trus kamu ngga pernah jemput aku. Jangankan pake mobil. Sepeda aja ngga punya, apa lagi motor! Ke mana-mana naik angkot. Duh, padahal Jakarta kan panas dan berdebu di mana-mana. Coba lihat tuh, cowoknya si Ririn. Mau naik mobil apa aja bisa. Tinggal pilih yang ada di garasi rumahnya. Sopir ngga cuma satu tapi lebih. Ke mana aja pasti dianterin. Sementara, kamu?! Jauh banget……”

Aku mencoba menahan rasa sakit tersebut.

“Kamu tidak pernah ajak aku makan di kafe atau restoran yang berkelas gitu. Yang ada minum es teh dan makan bubur di pinggir jalan. Kan kalo teman-teman aku liat bisa gengsi aku. Gengsi segengsi gengsinya. Gokil, malu-maluin banget sebanget bangetnya!”
Hatiku hanya berbisik, “Jadi selama ini kamu malu kalau aku ajak kamu makan di pinggir jalan?”

“Kamu ngga pernah ngasih aku kado atau sesuatu yang “mahal” gitu. Coba, si Keisha yang baru jadian satu bulan ama si Tio, pake liontin emas putih. Sedangkan aku? Mimpi kali yeeee….”

Akhirnya bibirku pun mengeluarkan kalimat tersebut. “Maaf, kalau selama kita jadian aku tidak bisa seperti pacar teman-teman kamu. Terima kasih kalau kamu pernah hadir dalam hidupku. Seharusnya dari awal kamu tau kalau aku hanya anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa.”

Detik berikutnya aku hanya melihat punggung Agnes yang meninggalkanku. Meninggalkan sebuah luka dihatiku.

*****

“Ko Tara!” teriak Daniel menyambut kedatanganku. Sebuah pelukan hangat membalut tubuhku. Sambutan Daniel menjadi obat sakit di hatiku.

Aku membalas pelukannya. Detik berikutnya air mataku jatuh tak tertahan. Aku tidak pernah menyesal terlahir dikeluarga yang miskin. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan ketika aku harus kehilangan kedua orang tuaku lima tahun yang lalu. Waktu mereka pergi untuk selama-lamanya, Daniel baru berusia dua tahun. Beruntung waktu itu aku baru saja menyelesaikan bangku SMA.

Aku harus membesarkan Daniel sendiri dengan hasil uang yang aku dapat dari menjadi seorang fotografer dan usaha Wedding Organizer yang aku rintis.

“Kamu sudah makan?” tanyaku sambil menatap wajah Daniel.

“Aku nunggu koko! Aku mau makan dengan koko!”

Aku memperhatikan wajah Daniel! Pucat! Sementara ada tanda bercak darah pada kulitnya yang putih.

“Kamu ngga kenapa-napakan, Dan?” Tanyaku penuh dengan kekuatiran.
“Koko, Daniel sehat-sehat saja! Cuma tadi sempat mimisan!”
Aku terkejut mendengar jawaban Daniel.
“Selesai makan nanti kita ke dokter ya?”
“Daniel, takut di suntik!”
“Kamu ngga usah takut! Kan ada koko! Disuntik cuma kayak digigit semut merah.”
“Ya, udah! Tapi aku ditemanin sama koko ya?”

Aku menggangukkan kepalaku tanda setuju.

*****

Daniel dirujuk ke Bagian Anak di salah satu Rumah Sakit di Jakarta . Di rumah sakit itu, sumsum tulang belakangnya diambil. Ternyata trombositnya rendah, sedangkan sel darah putih berlebihan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, ia positif terjangkit leukemia dan harus menjalani pengobatan selama dua tahun.
Pada tiga bulan pertama, Daniel dikemoterapi dan diberi obat antikanker (stitostika). Setiap kali mendapat pengobatan, ia muntah, nyeri pada sendi, dan rambut rontok. Sel kanker pun menjalar hingga ke bagian otak. Harapan untuk sembuh kian tipis.

“Koko! Daniel sayang koko!” ucap Daniel ketika memelukku diatas ranjangnya.
“Koko juga sayang Daniel! Tuhan pasti sembuhkan kamu!” aku mencoba menghiburnya. Setiap hari aku meyakinkannya, kalau dia pasti sembuh.
“Besok, Daniel sudah bisa pulang!”

Mungkin itu berita gembira bagi Daniel. Tapi bagiku, tidak! Uang tabunganku sudah habis untuk membiayai pengobatan Daniel. Dua hari yang lalu aku terpaksa menjual kameraku untuk menutupi biaya yang belum aku lunasi. Daniel tidak akan mendapatkan terapi lagi.

“Daniel, malu!”
“Malu kenapa sayang?”
“Kepala Daniel botak!”
“Tapi koko ngga pernah malu punya adik yang kepalanya botak!”
“Koko, minggu depan Daniel ulang tahun yang ke delapan loh!”
Aku menatap Daniel. “Koko ingat kok! Daniel mau kado apa?”
Daniel berpikir sejenak.
“Daniel cuma mau sembuh. Daniel ngga mau kado apa-apa.”
“Serius? Daniel suka SpongeBobkan?”
“Suka banget!”
“Mau ngga kalo koko kasih boneka SpongeBob?”
“Mau!” sahut Daniel dengan semangat!

*****

Aku berdiri terpaku mendengar suara merdu Daniel. Hari ini aku membawa Daniel ke Gereja. Aku tidak menyangka kalau dia akan maju ke altar dengan kursi rodanya dan menyanyikan sebuah pujian.

Tak Terbatas Kuasa-Mu Tuhan
Semua Dapat Kau Lakukan
Apa Yang Kelihatan Mustahil Bagiku
Itu Sangat Mungkin Bagi-Mu

Reff :
Di Saat Ku Tak Berdaya
Kuasa-Mu Yang Sempurna
Ketika Ku Percaya
Mujizat Itu Nyata
Bukan Kar’na Kekuatan
Namun Roh-Mu Ya Tuhan
Ketika Ku Berdoa
Mujizat Itu Nyata

Bridge :
Mujizat Itu Dekat Di Mulutku
Dan Ku Hidup Oleh Percaya
Aku melihat beberapa jemaat meneteskan air mata.
“Kalau Daniel masih bisa hidup hari ini itu karena mujizat dari Tuhan Yesus. Terima kasih untuk Koko Dewantara yang selama ini membesarkan Daniel sendiri. Daniel janji, Daniel ngga akan nakal! Daniel Sayang koko!” tutur Daniel setelah mengakhiri pujiannya.

*****

“Koko, kenapa nangis?” tanya Daniel dengan lemah.
Hari ini keadaan Daniel kritis. Terpaksa aku membawanya ke rumah sakit.
Aku menghapus air mataku.
“Tuhan sembuhkan atau tidak, bagi Daniel Tuhan tetap baik!”
Aku menggangukan kepalaku tanda setuju dengan ucapannya.
“Koko…. Terima kasih buat boneka SpongeBobnya ya!”
“Sama-sama sayang.”
Daniel mengambil sesuatu dibalik bantalnya. Lalu dia melihatnya dengan lemah.
Foto kedua orang tuaku bersama aku dan Daniel yang masih bayi.
“Koko, maafin Daniel ya kalo selama ini Daniel nakal dan repotin koko. Nanti kalo Daniel ke Surga, Daniel akan cari mama dan papa. Koko ngga usah kuatir lagi.”

Aku memeluk Daniel. Ya Tuhan! Aku belum siap kehilangan Daniel!

Dengan pelan Daniel mengucapkan sebait doa sambil memeluk boneka SpongeBobnya.

Tuhan….
Aku lapar! Sangat Lapar!
Tapi aku tidak ingin meminta makanan.
Aku hanya minta berkati mereka yang kelaparan sepertiku.

Tuhan…
Aku sakit! Sangat sakit!
Tapi aku tidak meminta kesembuhan.
Aku hanya minta sembuhkan mereka yang sakit sepertiku.

Tuhan…
Aku sebatang kara!
Tapi aku tidak meminta boneka.
Aku hanya minta hiburkan mereka yang kesepian.

Tuhan…
Bajuku penuh tambalan.
Tapi aku tidak meminta baju baru.
Aku hanya minta berkati mereka yang berkekurangan.

Tuhan…
Aku tidak ingin mujizat-Mu.
Meski aku tahu, Engkau sanggup melakukan-Nya.
Aku hanya minta, tunjukkan mujizatmu kepada mereka yang tidak mempercayai-Mu.

Tuhan…
Kalau nanti aku meninggal.
Aku tidak ingin ada yang menangis.
Tapi aku ingin mereka tersenyum. Tersenyum karena aku bertahan hingga akhirnya.

Tuhan…
Malam ini aku tidak meminta apa-apa untuk diriku.
Jadilah kehendakmu di bumi seperti di Surga.
Karena aku tahu, bersama-Mu semuanya akan Engkau berikan.

AMIN
Detik berikutnya Daniel menatapku dengan lembut dan lemah. Perlahan-lahan matanya tertutup rapat. Air mataku jatuh berderai tak tertahan.

==============================================================

Buat semuanya - Saya juga mendapa sebuah pelajaran yg sangat berharga dari kesaksian si Daniel, dimana beberapa hari ini banyak yg konseling dan sharing kepada saya tetang beban hidup mereka, Mereka berkata "kenapa sejak saya ikut Tuhan ko...k hidup saya malah seperti ini dan itu" dari situ kita bisa belajar tentang ketulusan hati dlm mengasihi Tuhan Yesus, bisakah kita tetap mencintai Yesus walaupun Tuhan tdk memberkati kita, bisa kah kita tetap mengasihi Yesus walaupun Tuhan Yesus tdk sembuhkanmu, bisa kah kita tetapi mengasihi Yesus walaupun Yesus tdk menolongmu...

Kiranya renungan ini bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita bisakah kita mencintai Allah dan mengasihi Allah dengan tulus tanpa mengharapakan apa2 dari Tuhan, yuk kita belajar dari si daniel yang sangat memahami ketulusan cinta

Daniel 3:16-18 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.

SEMANGAT SEMUA SAHABATKU TUHAN YESUS SANGAT MENGASIHI KITA SEMUA. TUHAN MEMBERKATI

Salam Kasih Ps. David Oktavianus

Senin, 11 Juli 2011

Bai Fang Li - Tukang Becak Termulia Di Dunia


Markus 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Kisah Bai Fang Li ini saya harap menjadi pelajaran hidup bagi kita semua untuk saling membantu sesama kita yang kesusahan, walaupun hidup serba pas-pasan tetapi tetap membantu orang tanpa pamrih

Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Tak Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan


TUHAN YESUS MEMBERKATI

Rabu, 02 Februari 2011

TOLONG KEMABALIKAN TANGAN DITA


Mungkin kata2 itu bukanlah Kata-kata yang terlalu berarti Besar , tetapi Cerita ini sungguh-sungguh sebuah cerita yang Berhikmah Besar dan Layak untuk direnungkan dalam-dalam ...:

Ada sepasang suami isteri , seperti banyak pasangan lain di kota-kota besar mereka sering meninggalkan anak-anak nya hanya diasuh oleh pembantu rumah sewaktu mereka berdua bekerja. Anak tunggal pasangan ini, seorang anak perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan oleh pembantunya karena si pembantu sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Dan ia pun mencorat-coret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari Ubin yg keras maka coretan tsb tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya tentu bekas coretan2 itu tampak nyata .

Hari itu memang ayah dan ibunya memakai motor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke dalam rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu dan dia berlari keluar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang kemarahannya tak terkontrol dan sudah hilang kesabaran lalu mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang masih belum mengerti apa apa itu menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu.. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan lagi , anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. " Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari ke-empat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sangat serius. Setelah beberapa hari di rawat inap di Rmh sakit , dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu di amputasi (dipotong) karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksinya sudah akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?.... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, Dita minta ma'af Ayah....." katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun semua sudah terjadi dan tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin serta penyesalan yang berkepanjangan sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi dari isterinya ..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Si ibu sendiri harus meneruskan hidupnya dengan dengan penyesalan yg paling dalam dan tiada akhir .

Pesan moral :

Pertama, KEMARAHAN yang Tak Terkontrol adalah karena NAFSU dan ibarat ajakan SETAN, PENYESALAN yang akan didapat kalau kita menurutinya. Maka janganlah sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan MARAH. Dan biasakan diri kita untuk MEMAAFKAN DAN MEMBERI AMPUNAN orang lain yg bersalah kepada kita ...

Dalam hal apapun, termasuk dalam hubungan suami istri, pemerintahan, politik dan sebagainya, kalau suatu keoputusan dilakukan sa'at Kemarahan sedang melanda pastilah keputusan itu tak akan bisa memberikan hasil yg baik.

Maka .....

Segeralah memohon Ampunan dari Tuhan mu bila kamu terlarut dalam Kemarahan yang tak terkendali.

Tuhan itu sangat menyayangi kita dan akan mengampuni kesalahan orang2 yang bisa Menahan Amarahnya dan bisa Mema’afkan orang yang bersalah kepadanya . Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Janganlah kita terlalu Mencintai Harta kita secara berlebihan, hal ini bisa Membutakan Hati dan Perasaan kita.

" PENYESALAN ITU SELALU DATANGNYA TERLAMBAT DAN IBARAT WAKTU YANG BERLALU TAK AKAN BISA DIPUTAR KEMBALI "

" JADIKANLAH HARTA ITU HANYA DI DALAM GENGGAMAN TANGANMU, JANGAN BIARKAN HARTA MENGUASAI DAN MEMBUTAKAN HATIMU ".

Minggu, 09 Januari 2011

Meledaknya Challenger (BACA YA...!!!)


Kisah nyata dibalik meledaknya Challenger: Saat itu, dari 43.000 pelamar, terseleksi 10.000 orang, kini aku menjd bagian dr 100 org yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.

Siapakah di antara kami yg bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yg terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yg menghancurkan itu.
NASA memilih: Christa McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.

Rasa percaya diriku lenyap, & amarah menggantikan kebahagiaanku.

Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa bukan aku? Bagian diriku yg mana yg kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Tapi kata ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, hari yg sebenarnya telah kuimpikan selama 25tahun, aku berkumpul bersama teman2 untuk melihat peluncuran Challenger.

Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. TUHAN, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku..??

73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku & menghapus semua keraguanku, yaitu saat Challenger meledak, & menewaskan semua penumpang.

Aku langsung teringat kembali kata2 ayahku, SEMUA TERJADI KARENA SUATU ALASAN.Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.

Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku lebih dari pemenang. Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

TUHAN menjawab doa kita dg 3 cara :

1. TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA YG KITA MINTA,

2. TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendptkan yg LEBIH BAIK,

3. TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendptkan yg TERBAIK sesuai dg kehendak-NYA.

TUHAN tidak pernah terlambat, DIA jg tidak tergesa2... DIA selalu tepat waktu,

TUHAN MEMBERKATI

Rabu, 24 November 2010

The Love of a Father

Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita.

Love suffers long and is kind; love does not envy; love does not parade itself, is not puffed up; does not behave rudely, does not seek its own, is not provoked, thinks no evil; does not rejoice in iniquity, but rejoices in the truth; bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.. 1 Corinthians 13:4-7 (NKJV)

Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan seorang gadis muda juga yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua konglomerat kaya. Sebelumnya merekapun selalu berdoa,“Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik...”

Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi,“Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami.”

Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah, mereka tidak mempunyai anak.

Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi,“Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.”Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung, lalu lahirlah seorang anak bagi mereka.“Anak laki-laki, pak,” kata dokternya.Sang ayah langsung melonjak kegirangan.

Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata,”Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada anda.”Si ayah membalas,“Kabar apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk””Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,” jelas si dokter.”Apa maksud bapak?” si ayah bertanya.Dokter melanjutkan,”Putra anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius.”Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, “Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu..”

But above all these things put on love, which is the bond of perfection. Colossians 3:14 (NKJV)

Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua..Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut, tetapi mereka menanggung semuanya itu.. Beranjak keluar dariumur batita, mereka membuatkan kamar khusus untuk anak mereka tersebut.

Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.

Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. 'Woi anak gw nih… ganteng kan ?' Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.

Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes.Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.

Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeeesial buat papa.'Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur.. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi 'ting', maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'.

Setelah itu, ia berlari ke kulkas, karena ayam sudah mulai berkokok, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir,'Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama.' Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, 'Kalau 2 sendok teh saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Jadilah kopi yang terasa seperti kopi tua itu.

Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini,'Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.'Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut.'Wah pasti enak nih.'

Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, 'Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ' kan biasanya papa yang doain. OK ya papa?'Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan,'Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.'

Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya,'Enak kan pa?''Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan.Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya,'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….'Si ayah berkata,'Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.'Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?'Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya,'Pahit, tapi papa suka sekali.'Dan dengan lugunya si anak menjawab,'Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,' karena ia mengira ayahnya sedang bercanda.

Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata

'Ray, kamu tau nggak…

'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut.

Lalu si ayah melanjutkan,

'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.

'Lalu si anak menjawab,

'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.

'Lalu si ayah berkata lagi,

'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?

'Si anak sambil menggelengkan kepala,

'Nggak tau pa….

''Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.

' Lalu si ayah melanjutkan,

'Ray, kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?

' Lalu dengan lugunya anak cacat ini menjawab,'Nggak tahu pa….

''Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.

''Raymond juga, sayaaaaaaaaaang banget sama papa.

'Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya,

'Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa.. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.

'Lalu si anak menjawab,'Sama-sama papaah….

'Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya,

'Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…'

Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?Kalianlah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan.Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan apa yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga.

NB: Memang sulit melihat kenyataan bahwa kitalah anak cacat tersebut.. Mengasihi dan menerima seorang anak yang cacat, yaitu seorang anak yang menurut nalar tidak memiliki masa depan dan tidak dapat diharapkan pastilah benar-benar memerlukan suatu “kasih tidak bersyarat” yang merupakan suatu pergumulan besar dalam hidup manusia.

Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..

Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu.

You are all fair, my love, and there is no spot in you.Song of Solomon 4:7 (NKJV)

Sabtu, 20 November 2010


TIGA HAL DALAM HIDUP YANG TIDAK BISA KEMBALI

1. Waktu

2. Kata-kata

3. Kesempatan



TIGA HAL YANG DAPAT MENGHANCURKAN HIDUP

1. Kemarahan

2. Keangkuhan

3. Dendam



TIGA HAL YANG TIDAK BOLEH HILANG

1. Harapan

2. Keiklasan

3. Kejujuran



TIGA HAL YANG PALING BERHARGA

1. Kasih

2. Keluarga

3. Teman



TIGA HAL DALAM HIDUP YANG GAK PERNAH PASTI

1. Kekayaan

2. Kesuksesan

3. Mimpi



TIGA HAL YANG MEMBENTUK KARAKTER

1. Komitmen

2. Ketulusan

3. Kerja Keras



TIGA CINTA YANG TIDAK PERNAH HABIS

1. Cinta Allah kepada Umat-Nya

2. Cinta orang tua kepada anaknya

3. Cinta fitri di SCTV gak abis2 bersambung terus hehehehe met malam saudaraku semua



Tuhan memberkati

Rabu, 17 November 2010

Tertawa sambil belajar.... Senyum adalah obat


Seorang pemuda yg lama sekolah di negeri tirai bambu kembali ke indonesia. Sampai dirumah ia minta pada orang tuanya utk mencari guru agama atau pendeta atau siapapun yg bisa menjawab 3 buah pertanyaannya....akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan pendeta....



pemuda : anda siapa? apakah bisa menjawab 3 buah pertanyaan saya?

pendeta : saya hanya orang biasa saja

pemuda : hmmm.....profesor dan byk orang pintar saja tdk mampu menjawab pertanyaan saya...

pendeta : saya akan mencoba sejauh kemampuan saya..

pemuda : saya punya 3 pertanyaan saya

1. kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujudnya pd saya

2. apakah yg dinamakan takdir?

3. kalausetan diciptakan dari api, kenapa dimasukkan ke neraka yg terbuat dari api?? tentu tdk menyakitkan buat setan sebab mereka memiliki unsur yg sama....apakah Tuhan tdk berpikir sejauh itu?



tiba tiba pendeta tersebut menampar pipi si pemuda dgn keras



pemuda : (sambil menahan rasa sakit) kenapa anda marah kepada saya?

pendeta : saya tdk marah.... tamparan itu adalah jawaban atas 3 pertanyaan yg anda ajukan kepada saya..

pemuda : saya sungguh tdk mengerti

pendeta : bagaimana rasanya tamparan saya?

pemuda : tentu saja saya merasakan sakit

pendeta : jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

pemuda : ya

pendeta : tunjukkan pada saya wujud sakit itu.....

pemuda : saya tdk bisa..

pendeta : itulah jawaban pertanyaan pertama, kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudNya



pendeta : apakah td malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

pemuda : tidak

pendeta : apakah pernah terpikiur oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

pemuda : tentu tidak

pendeta : itu lah jawaban pertanyaan kedua yaitu inilah yg dinamakan takdir



pendeta : terbuat dari apa tangan yg saya gunakan untuk menampar anda?

pemuda : kulit

pendeta : terbuat dari apa pipi anda??

pemuda : kulit

pendeta : bagaimana rasanya tamparan saya?

pemuda : sakit

pendeta : walaupun setan terbuat dr api dan neraka terbuat dr api, kalau Tuhan berkehendak maka neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk setan.....

Senin, 15 November 2010

Tukang Becak Termulia Di Dunia


Kisah Bai Fang Li ini saya harap menjadi pelajaran hidup bagi kita semua untuk saling membantu sesama kita yang kesusahan, walaupun hidup serba pas-pasan tetapi tetap membantu orang tanpa pamrih

Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Tersentuh

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Tak Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.



Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan

Selasa, 09 November 2010

Kasih sayang bapa terhadap anak

Cerita ini mengisahkan tentang seorang ayah yg sangat mengasihi anaknya. Sang Ayah bernama Dick Hoyt dan si anak bernama Rick Hoyt. Rick terlahir dalam keadaan cacat fisik, sehingga sbg anak dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti anak2 atau orang pada umumnya. Rick terlahir lumpuh & tuna wicara. Tetapi Dick sebagai ayah telah berkomitmen untuk merawat Rick seperti anak2 yang normal pada umumnya. Rick disekolahkan di sekolah anak2 normal.

Suatu ketika di Kota tempat mereka tinggal, diadakan Lomba Marathon Triathlon ( Lari, Renang, dan Bersepeda ) sejauh kira2 45 KM total jarak yang harus ditempuh. Sang anak Rick, meminta pada ayahnya supaya dia juga didaftar sebagai peserta dalam Perlombaan tersebut. Dick cuma bisa terharu melihat permintaan anaknya tersebut. Dengan penuh kasih dan terharu, Dick menjelaskan bahwa Lomba itu hanya bagi orang yang Normal fisiknya. Tetapi Rick, tetap ngotot untuk ikut lomba tersebut. Sang anak meminta supaya Dick lah yang melakukan buat dia. Akhirnya sang ayah, pun mendaftarkan anaknya itu ke PANITIA, awalnya semua panitia menolak. tetapi Dick bisa menjelaskan bahwa, anaknya tidak akan sendirian, tetapi hal itu dilakukan bersama dengan sang ayah.



Ketika hari perlombaan tiba Dick dan Rick Hoyt juga terlihat dalam barisan peserta lomba. Untuk berlari, Rick ditaruh dalam kursi rodanya, lalu sang ayah mendorong dengan berlari sekuat tenaga. Karena Kasihnya terhadap sang anak, Dick terus berlari mendorong kursi roda dan anaknya tersebut. kemudian setelah selesai etape untuk berlari kini giliran untuk berenang, seberangi Danau kira2 12 Km jauhnya. Sang anak di letakkan dalam perahu karet, lalu perahu tersebut diikatkan pada badan sang ayah....Dick lalu mulai berenang tanpa henti dengan sekuat tenaga.....dan mereka berhasil sampai keseberang. Kini tibalah Etape yg terakhir yaitu Bersepeda, dengan sepeda yg sdh dirancang khusus, sang anak lalu di taruh dibagian depan sepeda tersebut. Dick lalu mendayung sepeda tersebut...tak kenal lelah...dikayuh sepeda tersebut...semua peserta lomba telah selasai sampai ke garis FINISH, tinggal Dick dan Rick yg belum sampai ke garis Finish. Namun, semua penonton TIDAK ada satupun yang beranjak meninggalkan tempat Lomba. Mereka dengan setia menunggu Dick dan Rick Hoyt......akhirnya sampailah Dick dan Rick di garis Finish.....semua orang terharu....mereka bertepuk tangan sambil menangis karena terharu akan kasih Dick (sang ayah) terhadap Rick ( sang anak). Dick melakukan semuanya untuk anaknya tercinta. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita.


Silahkan Lihat Kisah ini di.
http://www.youtube.com/watch?v=OBjR1-0GVkI

Senin, 04 Januari 2010

SETIA SAMAPAI MATI

Ditengah maraknya perselingkuhan dan perceraian, kita beruntung masih bisa melihat kisah cinta sejati antara Ronald Reagan dan Nancy. Tahun 1950, Nancy bertemu dengan Reagan saat ia bekerja sebagai aktifis di MGM. Dua tahun kemudian, mereka menikah dan di karunia 2 anak : Patti dan Ron. Sejak saat itu, mereka selalu bersama selama 54 thn sampai maut memisahkan mereka.

Saat Reangan menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat selama 2 periode, Nancy selalu mendampingi dan menjadi penasihatnya. Dimasa tua setelah pensiun (1994), Reagan menderita penyakit Alzheimer dan menghilangkan dari aktivitas publik. Sewaktu Reagan sakit, Nancy dengan setia mendampingi dan merawat suaminya selama kurang lebih 10 thn. Penyakit itu juga merusak memori dan membuat Reagan lupa segala-galanya, bahkan ia tidak mengenali istrinya.

Pada suatu kali Reagan bertanya kepada Nancy, “Anda siapa, kok siang-malam terus menemani saya?” Dengan tersenyum sabar Nancy menjawab, “Aku istrimu, Sayang. Itu sebabnya aku terus menemanimu.” Nancy dengan setia tetap mendampingi sampai Reagan mengembuskan nafas terakhir pada 19 juli 2004. Nancy berkata, “Saya kira satu-satunya saat dimana mereka melarang saya masuk adalah saat ia berada dikamar operasi. Diluar itu, saya selalu disampingnya.”

Kisa Nancy dan Reagan adalah bukti nyata tentang kebesaran cinta. Nancy setia menyertai suaminya dalam suka dan duka sampai mau memisahkan mereka. Ia bukan hanya mendampingi kaboi Reagan pada saat kuat, sehat, dan menghilang dari publik dalam keadaan berduka.

Tuahn menghendaki rumah tangga orang beriman mencerminkan gambaran kasih dan kesetiaan seperti itu: selalu setia dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kaya dan miskin, sampai mau memisahkan

SAMPAI MAU MEMISAHKAN KITA

Zaman sekarang kawin-cerai merupakan hal yang biasa terjadi, baik di kalangan selebritis maupun orang biasa. Orang tidak lagi memandang perkawinan sebagai ikatan seumur hidup yang mempersatukan suami istri dalam suka dan duka, sehat dan sakit, miskin dan kaya, sampai maut memisahkan kita.

Pada waktu kapal Tetanic tenggelam, ada kisah cinta yang mengharukan. Ketika orang-orang sibuk memindahkan para wanita dan anak-anak kekapal sekoci, bapak dan ibu Strauss ikut sibuk membantu. Mereka menyuruh pelayannya, Mebel dan istrinya, mesuk sekoci dan menyelimuti mereka dengan selimut hangat. Bu Strauss sendiri sudah melangkahkan satu kakinya dalam sekoci, namun seketika ia berubah pikiran. Ia menarik kakinya dan melangkahkan kembali ke kapal yang mulai tenggelam.

“Sayangku, naiklah kesekoci,” kata suaminya

Bu Strauss menatap mata pria pria yang telah mendampinginya puluhan tahun, yang menjadi sahabat karibnya, belahan jiwa, dan selalu memberikan penghiburan. Ia meraih tangan suaminya dan mendekap tubuh pak strauss yang gemetar karena kedinginan.

“Tidak. Kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kita sekarang sudah tua. Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri. Kemana engkau pergi, aku ikut.” Demikianlah mereka terlihat terakhir kalinya, berdiri berpelukan di geladak dan kapal itu pun pelan-pelan mulai tenggelam.

Mereka mengambil komitmen untuk selalu bersama sampai maut memisahkan. Alangkah indahnya jika suami istri zaman ini membuat komitmen untuk tetap setia dalam keadaan apa pun, seumur hidup mereka, seperti yang dilakukan bapak strauss.

GBU
Ps David O.S Hardjawinata --- GEMBALA JEMAAT GPPS ABANA TENGGARONG - Kalimantan Timur - Twitter @DavidOktavianuz