Alkitab Hari Ini

Jumat, 11 Desember 2009

ANJING YANG MALANG

Amsal 14:29 ; 16:32

Kisah ini menceritakan tentang sebuah keluarga petani yg tinggal disuatu desa. Keluarga petani ini dikaruniai seorang anak perempuan yg masih berumur enam bulan. Mereka juga memelihara seekor anjing yg sangat mereka sayangi. Anjing itu begitu pintar dan setia kepada majikannya. Ia bisa diandalkan untuk membantu pasangan petani tersebut di dalam menjaga sawah mereka. Mereka tidak perlu membuang waktu utk menjaga burung2 atau tikus yg akan merusak tanaman padi, karena si anjing setia akan mengusir burung2 yg datang untuk melahap padi mereka. Karena kegesitannya anjing setia itu selalu berhasil menangkap tikus2 nakal yg merusak tanaman padi dan mencabik-cabik tubuh mereka. Pagi itu si petani bermaksud menjual hasil sawahnya kekota, tetapi kali ini ia terpaksa harus mengajak isterinya ikut serta karena banyaknya hasil sawah yang harus mereka bawa ke pasar. Masalahnya sekarang siapa yang akan menjaga si kecil yg baru berumur enam bulan itu? "Kan ada si anjing," kata pak tani kepada isterinya. Maka berangkatlah pasangan suami-isteri itu kepasar dan mempercayakan pengawasan bayi mereka kepada si anjing setia. Toh selama ini kesetiaan dan kepintarannya terbukti. Setelah semua dagangan habis terjual, mereka pun pulang kerumah. Melihat majikannya datang, dari kejauhan si anjing menyalak, melompat2 sambil berputar2 seolah ingin memberitahukan kepada mejikannya, "Cepat ke mari, ada sesuatu yg terjadi." Setelah dekat, suami isteri pun kaget bukan kepalang. Betapa tidak mereka melihat moncong anjing itu berlumur darah. "Pastilah anjing ini sudah memakan bayi kita," Jerit isteri petani histeris. Serta merta pak tani mengambil sebatang kayu. Sambil mecaci maki si anjing, "Anjing kurang ajar, tidak tau di untung, tegannya angkau memakan bayi kami," sekuat tenaga petani itu memukulkan kayu keatas kepala si anjing. Anjing itu pun sempoyongan, berteriak lemah memandang tuannya dengan mata sayu, setelah itu ia rebah tak bernyawa dekat kaki tuannya. Suami-isteri itu bergegas ke dalam dan disana mereka melihat bayi kecil mereka sedang tidur terlelap. Dibawah tempat tidurnya, tampak bangkai ular besar dengan darah yang berceceran di tanah bekas gigitan si anjing. Suami-isteri ini pun duduk terkulai. Penyesalan mendera hati mereka karena telah membunuh anjing yang setia yang justru telah menyelamatkan nyawa bayi mereka dari serangan ular besar. Cerita ini mengajak kita kembali kepada pengajaran firman Tuhan tentang bagaimana kita harus menguasai diri sepenuhnya dan tdk cepat terbakar emosi dlm kemarahan. Banyak permasalahan yang timbul dikarenakan emosi yg tdk terkendali. Marilah kita melatih diri untuk mengendalikan emosi, sehingga kita tidak melakukan tindakan yg bodoh

GBU
Ps David O.S Hardjawinata --- GEMBALA JEMAAT GPPS ABANA TENGGARONG - Kalimantan Timur - Twitter @DavidOktavianuz